Kamis, 15 April 2010

Lembah Doa bagi segala Bangsa


Lembah Doa dan Pujian Yosafat merupakan tempat doa bagi keselamatan kesejahteraan segala Bangsa, segala suku bangsa, segala suku.



Lembah Doa dan Pujian Bet Yosafat atau disingkat "Lembah Doa Yosafat" yang terletak di Kabupaten Minahasa, Kecamatan Sonder, desa Leilem adalah merupakan lembah tempat doa yang digunakan oleh berbagai gereja antar denominasi dengan Tujuan menjadikan tempat doa yang menggerakan pemulihan Tubuh Kristus [semua gereja baik Katolik, Protestan (Pentakosta, Karismatik)] untuk mendoakan kesatuan, kebersamaan antar gereja, kesejahteraan jemaat antar gereja. Segala kemuliaan bagi YHWH. Demikian kerinduan kami, harapan kami dalam membangun lembah ini untuk kemuliaan YHWH dan Kebangkitan rohani bagi sulawesi utara sehingga terjadi transformasi yang memberkati masyarakat dengan kelimpahan rohani dan materi sehingga menjadi berkat bagi bangsa Inonesia bahkan bangsa lainnya. Visi : Membangun rumah doa, Pelaksanaan : Hanya orang berjalan dengan iman dapat mewujudkan visi. Orang berdoa, yang bersyukur dan memuji YHWH alam segala keadaan yang dapat bertahan melaksanakan visi. Ibrani 10:38-39, ‘Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya." Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.’ YHWH juga tidak berkenan kepada mereka yang mengundurkan diri. Janganlah kita mengundurkan diri dari panggilan-Nya, dari menjadi rumah doa bagi segala bangsa. Kisah Para Rasul 2:42, ‘Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.’ Yesaya 58:6, ‘Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk’ Dengan doa kita mematahkan segala belenggu dosa, belenggu si jahat dan kuk-kuk si jahat. Membebaskan orang-orang yang terikat, terbelenggu sehingga mereka bisa melihat kemuliaan Yesus Kristus. Mengapa Lembah Yosafat ?
Yoel 3:1-2, ‘"Sebab sesungguhnya pada hari-hari itu dan pada waktu itu, apabila Aku memulihkan keadaan Yehuda dan Yerusalem, Aku akan mengumpulkan segala bangsa dan akan membawa mereka turun ke lembah Yosafat; Aku akan berperkara dengan mereka di sana mengenai umat-Ku dan milik-Ku sendiri, Israel, oleh karena mereka mencerai-beraikannya ke antara bangsa-bangsa dan membagi-bagi tanah-Ku,’
Secara tradisi orang menyebutnya lembah Kidron, sebuah cekungan yang terletak antara tembok Yerusalem dengan Bukit Zaitun. Di sanalah diyakini secara profetik, YHWH akan datang untuk kedua kalinya melakukan penghakiman yang terakhir. Itulah sebabnya lembah itu juga disebut dengan lembah penghakiman terakhir, tempat dimana bangsa-bangsa akan diadili. Nabi Yoel sudah menubuatkan hal itu di dalam salah satu tulisannya. Di dalam Yoel 3:12-14 dituliskan, “ Baiklah bangsa-bangsa bergerak dan maju ke lembah Yosafat, sebab di sana Aku akan duduk untuk menghakimi segala bangsa dari segenap penjuru. Ayunkanlah sabit, sebab sudah masak tuaian; marilah, iriklah, sebab sudah penuh tempat anggur; tempat-tempat pemerasan kelimpahan, sebab banyak kejahatan mereka. Banyak orang, banyak orang di lembah penentuan! Ya, sudah dekat hari YHWH di lembah penentuan! “ Implikasinya bagi kita sekarang sudah jelas. Lembah Yosafat juga berbicara tentang Lembah Pujian, ini berbicara tentang doa, pujian dan penyembahan kita hari-hari ini. Yoel 3:9-11, ‘Maklumkanlah hal ini di antara bangsa-bangsa: bersiaplah untuk peperangan, gerakkanlah para pahlawan; suruhlah semua prajurit tampil dan maju! Tempalah mata bajakmu menjadi pedang dan pisau-pisau pemangkasmu menjadi tombak; baiklah orang yang tidak berdaya berkata: "Aku ini pahlawan!" Bergeraklah dan datanglah, hai segala bangsa dari segenap penjuru, dan berkumpullah ke sana! Bawalah turun, ya YHWH, pahlawan-pahlawan-Mu!’ Kita harus bersiap-siap, mempersiapkan diri kita menghadapi tahun penuaian ini. Peperangan di Lembah Pujian November 17, 2007 oleh changdeb “Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat YHWHlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah.” (2Taw. 20:22) Peristiwa di atas boleh dikatakan merupakan salah satu kemenangan paling spektakuler yang pernah diperoleh bangsa Israel dalam sejarah peperangan mereka yang panjang. Bukan hanya dalam hal hasil rampasan (20:25), tetapi juga dalam hal akibat yang ditimbulkan oleh pembuktian penyertaan YHWH yang luar biasa atas bangsa itu (20:29). Memang, kemenangan-kemenangan dengan hasil seperti itu bukan hal yang baru bagi bangsa Israel. Setiap kali mereka berperang dengan mengandalkan kekuatan YHWH, bisa dipastikan bahwa mereka pulang dengan sorak kemenangan dan hasil rampasan yang berlimpah ruah. Namun yang membuat yang satu ini berbeda adalah, mereka memperoleh kemenangan yang sangat gemilang tanpa mengerahkan pasukan ke medan laga. Sekilas, ini seperti pemberian cuma-cuma yang didapat tanpa usaha. Benarkah demikian? Marilah kita selidiki lebih jauh, apa yang dilakukan bangsa Israel sehingga YHWH menunjukkan penyertaan dan perlindungan-Nya kepada mereka dengan cara yang sangat luar biasa ini. Mencari YHWH “Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari YHWH.” (20:3a) Itulah hal pertama yang dilakukan Raja Yosafat ketika kabar penyerbuan oleh orang-orang Moab, Amon, dan Meunim sampai di telinganya. Dia tidak menjadikannya sebagai pilihan terakhir yang baru dilakukan setelah menemui jalan buntu. Dia bisa saja segera mengerahkan pasukannya yang paling kuat untuk berjaga-jaga (2Taw. 17:12-13) atau mencari bantuan dan bersekutu dengan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya seperti yang biasa dilakukan para raja pada umumnya (2 Taw. 16:3,7), namun dia mengambil pilihan yang bijaksana ini. Dan sesuai dengan janji YHWH: “…carilah, maka kamu akan mendapat…karena… setiap orang yang mencari, mendapat…” (Mat. 7:7-8), bangsa Israel mendapatkan penyertaan YHWH. Berpuasa “Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.” (20:3b) Tidak berhenti pada pengambilan keputusan, ia segera melaksanakannya. Dan yang dilakukannya pun tidak tanggung-tanggung. Ia meminta agar seluruh rakyat ikut berpuasa – bukan hanya pasukan perangnya – sebab ia mengetahui bahwa keamanan dan keselamatan negara bukan hanya merupakan tanggung jawab tentara, tetapi adalah tanggung jawab seluruh penduduknya. Ini sungguh peristiwa yang tidak biasa. Seluruh rakyat berpuasa untuk menyatakan pertobatannya kepada YHWH, sudah berulang kali terjadi. Atau seluruh rakyat berpuasa menghadapi ancaman dari pihak yang lebih kuat dan berkuasa, juga pernah terjadi, yaitu ketika bangsa Israel berada dalam pembuangan, di mana mereka sama sekali tidak mempunyai pasukan yang terlatih, apalagi bersenjata (Ezr. 8:21-23; Est. 4:3,16). Namun seluruh rakyat dari suatu negara merdeka yang masih memiliki pasukan bersenjata yang cukup kuat melakukan puasa sebagai persiapan perang, baru kali ini terjadi. Yosafat menyadari bahwa YHWHlah yang membuat segala pekerjaannya berhasil (2Taw. 17:5,10). Tanpa pertolongan YHWH, dia pasti tidak dapat bertahan menghadapi ancaman dari musuh-musuhnya. Karena itu, bersama semua rakyatnya, ia merendahkan diri di hadapan YHWH. Berdoa Bersama “Lalu Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah YHWH, di muka pelataran yang baru dan berkata: ‘Ya YHWH, YHWH nenek moyang kami…’ Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan YHWH, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka.” (20:5,6,13) Mengerti akan pentingnya kesatuan hati seperti yang dikatakan Pengkhotbah: “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pkh. 4:12), seluruh Yehuda – tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, tuan, hamba – tanpa terkecuali, berdoa demi tujuan yang sama. Doa adalah nafas hidup umat Kristen, adalah satu-satunya cara berkomunikasi dengan YHWH. Tanpa doa, tidak ada artinya puasa yang dilakukan, berapa pun lamanya. Apalagi mereka berdoa di rumah YHWH, di tempat yang tentangnya YHWH berkata, “Telah Kudengar doamu dan telah Kupilih tempat ini bagi-Ku sebagai rumah persembahan…Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa” (2Taw. 7:12b,15,16). Tidakkah hati YHWH tergerak melihatnya? Bersandar Sepenuhnya kepada YHWH “Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” (20:12b) Perkataan yang sungguh luar biasa! Yosafat tidak bertanya apa strategi yang harus dilakukan atau apakah YHWH akan menyertainya dalam peperangan. Dia hanya sepenuhnya mempercayakan pengambilan keputusan kepada YHWH. Dan karena YHWH mengabulkan doa kita jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya (1Yoh. 5:14), bahkan Dia dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan (Ef. 3:20), doa Yosafat yang penuh iman dan sangat rendah hati ini memberikan akibat yang luar biasa; seketika itu juga YHWH menjawab. Ia memberikan penghiburan dan memberitahukan apa yang harus dilakukan bangsa Israel, yaitu mereka harus turun menyerang musuh-musuh mereka, namun dalam peperangan itu mereka tidak usah bertempur (2Taw. 20:14-17). Perintah yang agak membingungkan bukan? Bagaimana mereka dapat turun menyerang musuh sekaligus tidak bertempur? Apakah YHWH tidak konsisten dengan perkataan-Nya? Sama sekali tidak! Dalam perintah itu YHWH menyampaikan maksud-Nya dengan sangat jelas. Kita lihat bahwa yang dihinggapi Roh YHWH dan bernubuat adalah Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, bukan pelihat yang biasa menyampaikan firman YHWH kepada raja, yaitu Yehu (2Taw. 19:2) atau Eliezer (2Taw. 20:37). Dalam rumah YHWH, bahkan sebelum Bait YHWH didirikan, bani Asaf bertugas sebagai pemuji YHWH (1Taw. 15:19; 16:4-5,7; 23:3-5,30; 25:1). Yosafat menerjemahkan hal ini dengan sangat tepat. Keesokan harinya, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyikan nyanyian untuk YHWH, yang ditempatkannya di depan pasukan bersenjata (20:21). Ya, inilah yang dilakukan bangsa Israel: turun menyerang musuhnya dengan bersenjatakan nyanyian syukur dan pujian kepada YHWH. Inilah hal paling unik dalam peristiwa itu. Suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak pernah terjadi lagi. Begitu sederhana! Hanya mencari YHWH, berpuasa, berdoa bersama, dan bersandar sepenuhnya pada YHWH, kemudian menyanyikan syukur dan pujian, sim salabim, musuh kalah. Namun, pernahkah kita merenungkan, selain karena dukungan puasa, doa, dan berserah sepenuhnya, mengapa nyanyian syukur dan pujian bangsa Israel dapat menggerakkan hati YHWH? Para Penyanyi di Rumah YHWH Ketika Daud sudah menjadi tua, ia membagi orang-orang Lewi menjadi beberapa rombongan yang diberi tugas-tugas tertentu dalam Rumah YHWH yang akan didirikan Salomo (1Taw. 23:1-3; 29:20-21). Mereka semua punya kedudukan yang sama, hanya bidang pelayannya saja yang berbeda. Ada yang bertugas mengawasi pekerjaan di rumah YHWH, ada yang menjadi pengatur dan hakim, penunggu pintu gerbang, dan ada yang menjadi pemuji YHWH (1Taw. 23:4-5) yang bertugas untuk menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi YHWH setiap pagi, petang, dan pada setiap kegiatan ibadah lainnya sebagai tugas tetap di hadapan YHWH (1Taw. 23:30-31). Para pemuji YHWH terbagi lagi menjadi para pemain musik dan penyanyi (1Taw. 16:4-5,41-42; 25:1). Alkitab mencatat secara khusus keberadaan para penyanyi itu dalam 1Taw. 25:1-31. Dikisahkan bahwa anak-anak Asaf, Heman, dan Yedutun, di bawah pimpinan ayah mereka, bernubuat dan menyanyikan nyanyian di rumah YHWH dengan diiringi kecapi, gambus, dan ceracap. Dan dalam ayat 7-8 dikatakan: “Jumlah mereka bersama-sama saudara-saudara mereka yang telah dilatih bernyanyi untuk YHWH – mereka sekalian adalah ahli seni – ada dua ratus delapan puluh delapan orang. Tua, muda, guru dan murid, membuang undi mengenai tugasnya.” Dari ayat ini kita dapat menangkap keseriusan mereka dalam melakukan tugas pelayanannya di hadapan YHWH. Mereka menyadari bahwa tugas utama mereka adalah menyanyi. Dan itu dilakukannya dengan segenap hati. Semuanya berlatih, berlatih, dan terus berlatih menyanyi sampai menjadi ahli seni. Bahkan yang sudah tua pun tetap berlatih dan tetap melayani bersama-sama dengan yang muda. Karena itu jerih lelah mereka tidaklah sia-sia. Setelah Bait Suci selesai didirikan, Tabut Perjanjian YHWH yang tadinya ada di Sion dipindahkan ke dalamnya oleh imam-imam dan orang Lewi. Semua imam yang ada pada waktu itu hadir dan sudah menguduskan diri. Demikian pula para penyanyi orang Lewi, semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus dan kecapinya, bersama-sama seratus dua puluh imam peniup nafiri. Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada YHWH. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji YHWH dengan ucapan: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah YHWH, dipenuhi awan, sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan YHWH memenuhi rumah YHWH (2Taw. 6:11-14). Di gereja kita saat ini pun, ada kesaksian-kesaksian yang menguatkan bahwa Alllah menyertai tim paduan suara kita. Di gereja Kanada, ketika kondisi paduan suara mereka sedang lemah, seorang saudari diberi penglihatan. Selama latihan itu YHWH Yesus sendiri ada di sampingnya dan ikut bernyanyi bersamanya. Di Jakarta, ada seorang simpatisan yang seringkali duduk mendengarkan ketika paduan suara sedang berlatih. Suatu kali, imannya yang sedang lemah terbangun lagi setelah mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan dalam latihan tersebut, sehingga dia berani membela gereja kita yang disebut sebagai gereja sesat oleh pengurus di gerejanya sendiri. Katanya, “Sebaiknya kita jangan munafik dengan menuduh bahwa Gereja Yesus Sejati adalah gereja yang sesat. Kalau paduan suaranya saja begitu diberkati, apa lagi yang lainnya!” Pemazmur pernah berkata, “Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel” (Mzm. 22:4). Jadi tidaklah aneh jika YHWH cenderung bertindak dengan cara yang luar biasa apabila mendengar nyanyian pujian dari umat-Nya. Petrus dan Paulus serta Silas sama-sama pernah dibebaskan dari penjara secara ajaib. Namun ada perbedaan yang cukup mencolok di antara keduanya. Mereka sama-sama beriman sehingga walaupun dipenjarakan tidak merasa gelisah. Perbedaannya adalah, pada malam hari Petrus tidur (Kis. 12:6), sedangkan Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan nyanyian pujian kepada YHWH (Kis. 16:25). Hasilnya, Petrus diselamatkan seorang diri, sedangkan Paulus dan Silas diselamatkan sambil menyelamatkan jiwa kepala penjara beserta seisi rumahnya (Kis. 16:33). Penutup Mungkin, melalui peristiwa di Lembah Pujian ini YHWH ingin mengajarkan kepada kita strategi perang yang paling efektif, yaitu berperang dengan pujian. Peperangan yang kita hadapi saat ini bukanlah melawan darah dan daging, tapi peperangan rohani untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi-Nya. Dalam setiap kebaktian yang kita adakan, kita dapat menggunakan strategi yang sama, yaitu menempatkan tim pujian di depan pasukan bersenjata, yaitu para pengkhotbah. Adalah tugas tim pujian untuk menggemburkan tanah yang akan ditanami benih oleh pembawa Firman YHWH. Dapatkah itu dilakukan dengan serampangan dan seadanya? Tidakkah YHWH menuntut usaha yang lebih serius dan dilakukan dengan segenap hati, segenap kekuatan, dan segenap akal budi kita seperti yang dilakukan para penyanyi Bait YHWH? Beranikah kita menganggap remeh tugas tersebut sementara YHWH berkata, “Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan YHWH dengan lalai” (Yer. 48:10a)? Bahkan YHWH sudah memperlengkapi kita secara khusus agar dapat memuji Dia sebagai ‘ahli seni’ seperti para penyanyi Bait YHWH. Dia membuat rongga di antara mata dan otak kita agar dapat dipakai sebagai ruang resonansi sehingga dapat menghasilkan suara yang lebih indah, lebih empuk dan bercahaya, dan juga dipakai untuk mengatur keras lembutnya suara yang kita keluarkan. Dia juga membuat diafragma (selaput pemisah antara rongga dada dan rongga perut) kita elastis, sehingga paru-paru kita dapat memuat lebih banyak udara, dan elastisas diafragma yang tertekan paru-paru itu membuat suara kita dapat mengalir jauh. Memang, bukan hanya manusia yang memiliki rongga di antara mata dan otaknya; tetapi tidak semuanya dikaruniai kemampuan untuk memanfaatkannya. Salah satu makhluk yang punya kemampuan itu adalah burung kenari. Walaupun ukuran tubuhnya relatif kecil, namun karena dia dapat memanfaatkan rongga di kepalanya itu – yang berukuran cukup besar, dia dapat mengeluarkan suara yang keras. Tetapi, manusia berbeda. Secara alami manusia tidak dapat memanfaatkannya, tapi mereka dikaruniai kemampuan untuk menggunakan perlengkapan yang disediakan YHWH itu melalui latihan. Bahwa YHWH menghendaki agar kita mempergunakan perlengkapan itu semaksimal mungkin terbukti dari pengalaman beberapa saudara. Selain giat berlatih, mereka juga berdoa memohon hikmat kepada YHWH. Setelah berdoa, mereka merasakan kemampuan mereka meningkat lebih cepat. Tentu saja, mereka tidak akan dapat mengetahui apakah sudah mengalami peningkatan apabila tidak giat berlatih. Alkitab memang tidak menyebutkan bahwa para penyanyi di rumah YHWH-lah yang bernyanyi di depan pasukan bersenjata dalam perang melawan bani Moab, Amon, dan Meunim. Tapi kita bisa menduga bahwa kemungkinan besar merekalah yang dipilih untuk melakukan tugas tersebut sebab hanya orang-orang yang giat berlatihlah yang dapat siap sedia setiap saat diperlukan. Terlebih kita tahu bahwa para penyanyi itu mewariskan keahlian dan jabatannya di hadapan YHWH turun-temurun, sehingga setelah puluhan tahun dalam pembuangan pun mereka tetap ada (Neh. 7:1). Jadi, apakah dengan demikian doa bersama, puasa, dan bersandar sepenuhnya kepada YHWH menjadi tidak berarti? Justru sebaliknya; tanpa doa dan puasa dari seluruh rakyat Israel, YHWH tidak akan menyatakan kehendak-Nya. Kiranya tulisan ini dapat mengingatkan kita — sebagai Israel-Israel rohani saat ini yang sekaligus adalah imam-imam bagi YHWH (Why. 1:6) – untuk mengintrospeksi diri kita masing-masing. Yang bertugas sebagai penyanyi, cara kita mengusahakan talenta yang YHWH berikan adalah dengan giat berlatih; sudahkah kita melakukannya dengan segenap hati dan kekuatan kita, terus-menerus mengejar peningkatan kualitas pelayanan, ataukah kita sudah cukup puas dengan satu talenta dan menguburkannya. Sebagai pasukan bersenjata, adakah kita mengasah pedang dan melatih ketrampilan kita dalam mempergunakannya setiap hari seperti yang dilakukan Rasul Paulus (1Kor. 9:26-27). Supaya, kapan pun YHWH mengutus kita melakukan peperangan rohani bagi-Nya, kita selalu siap sedia. Begitu pula halnya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain, sebab di mata YHWH tak ada satu pun pekerjaan yang lebih penting dari pada pekerjaan yang lain. Marilah kita bersama-sama bersatu hati melakukan pekerjaan YHWH, saling mendukung dalam doa, saling berlomba – bukan dengan iri dan dengki – tapi dengan semangat peningkatan diri menuju kesempurnaan rohani dan pelayanan, sehingga seperti Paulus, kita dapat berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir… Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh YHWH, Hakim yang adil, pada hari-Nya” (2Tim. 4:7-8). Dan kelak saat kita berjumpa dengan YHWH, Dia berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu hai, hambaku yang baik dan setia… masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:21). Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar